Terbaru

Contributors

Sikap Ali Zainal Abidin dan Gus Dur Saat Dicaci Maki


Helmi, alumnus INSTIKA.

Nama aslinya Ali ibn al-Husein bin Ali bin Abi Thalib, cucu Sayyidina Ali bin Abi Thalib. Ali ibn al-Husein masyhur dengan nama Zainal Abidin (Sang Hiasan Para Ahli Ibadah) karena saking banyaknya ibadah kepada Allah. Ia  dikenal  sebagai seorang ahli fikih, wara’ dan tawadlu’. Dalam hal ibadah, ia dikenal sebagai orang yang tidak pernah meninggalkan shalat malam dan sangat khusyu’. Ia wafat di Madinah pada 94 H dan dimakamkan di Baqi’.

Suatu ketika, Ali Zainal Abidin baru saja keluar dari masjid. Tiba-tiba, seorang laki-laki menghadangnya kemudian mencela dan mencaci makinya. Karuan saja hal ini membuat pengikutnya bermaksud memberikan pelajaran kepada lelaki kurang ajar itu. Namun, Ali Zainal Abidin mencegah dan berkata, “Bersikap lunaklah kalian!”

Lalu, Ali menghampiri lelaki tadi dan dengan lembutnya berkata, “Kekurangan kami yang tak engkau ketahui masih banyak. Saudaraku, apakah engkau punya kebutuhan yang bisa kami bantu?”
Lelaki itu merah wajahnya saking malunya. Lalu Ali memberikan gamis yang ia kenakan dan meminta orang terdekatnya untuk memberikan hadiah kepada lelaki itu sebanyak seribu dirham.
Sejak itulah, setiap kali lelaki itu bertemu Ali Zainal  Abidin, ia selalu berkata: “Aku bersaksi bahwa engkau salah seorang putra (cucu) Rasulullah Saw.”

Menikmati cerita tersebut pagi ini, saya tiba-tiba termenung. Betapa luhurnya akhlak putra cucu Rasulullah tersebut. Ketika dicaci, alih-alih memarahi orang yang mencaci, namun justru mengasihi.  Barangkali, hal ini karena kecintaannya kepada umatnya melebihi semuanya. Ia tidak merasa rendah ketika direndahkan oleh orang lain, sebaliknya ia justru memberikan hadiah kepada pencacinya.

Hal ini berbeda dengan fenomena zaman sekarang. Di mana, ketika seorang pemimpin dan tokoh publik dikritik apalagi sampai dicaci, alih-alih memberikan apresiasi yang terjadi malah memenjarakannya dengan dalih pencemaran nama baik. Beberapa di antaranya membiarkan pendukungnya melakukan persekusi yang mengarah kepada tindakan main hakim sendiri. 

Dalam hal ini, saya juga teringat kepada Gus Dur. Gus Dur menurut saya adalah contoh terdekat bagi kita tentang bagaimana menyikapi orang yang mencaci maki dirinya. Gus Dur tidak pernah marah maupun menanggapi ketika dirinya dihina. Alih-alih marah, ia malah kerapkali “menghina” dirinya sendiri sebagai bahan guyonan. Hal itu seolah-olah untuk mengatakan kepada orang-orang bahwa tidak masalah kekurangan dirinya ke publik. Ia tidak merasa rendah hanya karena ada orang yang merendahkan, apalagi hanya karena kekurangan fisik misalnya. Justru sikap ini semakin membuat orang-orang memuliakan dirinya sebagai tokoh bangsa.

Demikian pun ketika dilengserkan dari jabatannya sebagai presiden. Saat itu, ribuan orang yang dikenal sebagai “pasukan berani mati”siap berperang membela Gus Dur sampai titik darah penghabisan. Namun yang terjadi, ia justru memarahi para pendukungnya dan menyuruh pulang ke daerah masing-masing. Baginya, tidak ada jabatan yang perlu dipertahankan secara mati-matian, apalagi sampai harus mengobarkan perang saudara.

Dalam pandangan saya, sayyidina Ali Zainal Abidin maupun Gus Dur telah selesai dengan dirinya sendiri. Ia tidak lagi memikirkan kepentingan dirinya sendiri. Cacian, makin, atau apapun yang merendahkan diri keduanya tidak berpengaruh apa-apa. Karena yang lebih dipentingkan bagi keduanya adalah kepentingan umat. Kasih sayang keduanya kepada umat di atas segalanya. Begitulah kedua tokoh ini memberikan teladan bagi kita manakala ada yang menghina dan mencaci maki. Semoga kita bisa meneladani kedua tokoh ini dalam segala halnya. Wallahu A’lam.


Catatan: Cerita tentang Ali Zainal Abidin disadur dari Buku Qisasul Auliya’ (Kisah Para Kekasih Allah), hal. 29-30.

(Gambar: senayanpost.com)