Terbaru

Contributors

loading...

Terima Kasih, Yenny Wahid


Abd. WaritsDosen Pecinta Politik

Penantian publik terjawab sudah. Yenny Zannuba Wahid, putri KH. Abdurrahman Wahid menolak secara halus pinangan Prabowo Subianto untuk menjadi Calon Gubernur pada Pilkada Jatim 2018. Yenny Wahid sebelumnya santer dikabarkan sebagai calon alternatif Poros Tengah yang digagas oleh Partai Gerindra. Yenny Wahid dianggap memiliki modal yang cukup untuk bersaing dengan calon yang lebih dulu mendeklarasikan diri: Gus Ipul dan Khofifah. 

Di akun twitternya, Yenny Wahid mengaku tidak menolak pinangan Prabowo, hanya saja tidak mendapat izin sesepuh untuk maju. Ia juga menambahkan bahwa tugas kesejarahan yang ia yakini adalah meneruskan perjuangan Gus Dur untuk menjaga keutuhan umat, terutama umat NU, sehingga ia memilih untuk mengayomi semua kandidat yang kesemuanya merupakan kader terbaik NU.

Sebelumnya banyak analis yang menyatakan bahwa pencalonan  Yenny Wahid dikhawatirkan semakin memecah belah kekuatan NU di Jawa Timur. Karenanya, penegasan Yenny Wahid untuk tidak maju tidak hanya menunjukkan bahwa ia tidak gila kekuasaan, tetapi juga bukti kenegarawanannya sebagai putri Gus Dur, yang lebih lebih mementingkan umat ketimbang kepentingan politik sesaat. Dengan memilih tidak mencalonkan diri secara tidak langsung ia telah menghindarkan umatnya dari perpecahan yang lebih besar di Pilkada Jatim 2018.

Terimakasih Nyai...
Tentu saja, pernyataan Yenny Wahid ini mendapat pro kontra dari netizen. Di akun twitter @yennywahid, masih ada yang mendorong untuk maju sebagai calon gubernur sebagai calon alternatif. Namun, sejauh amatan saya, hingga tanggal 4/1 pukul 07.18 Wib, pada umumnya netizen mengapresiasi keputusan Yenny Wahid. Pernyataan Yenny Wahid dinilai cerdas dan bijak. Cerdas karena tidak mau diseret permainan politik kelas atas yang lebih mementingkan kekuasan dan berpotensi memecah belah umat NU. Bijak mengingat penolakan ini tidak melukai perasaan Prabowo yang notabene merupakan pimpinan partai suaminya sendiri.

Namun demikian, nitizen yang mendukung pernyataan Yenny memiliki beragam alasan yang tidak sama satu sama lain. Ada yang mengapresiasi karena kepatuhan kepada kiai sesepuh, ada yang karena dinilai meniru Gus Dur yang lebih mementingkan umat; ada pula yang setuju karena menilai partai Gerindra dianggap pemecah belah bangsa di Jakarta sehingga tidak layak untuk Yenny Wahid yang merupakan penerus perjuangan Gus Dur dalam menjaga kesatuan dan kebhinnekaan Bangsa Indonesia. Terlepas dari itu, netizeen bersepakat dalam satu hal: mereka mengucapkan terimakasih karena Yenny Wahid tidak maju sebagai Calon Gubernur Jawa Timur.

Secara jujur saya juga menyampaikan terimakasih dan apresiasi setinggi-tingginya terhadap sikap Yenny Wahid ini. Setelah ini, warga NU tinggal berfokus kepada dua calon: Gus Ipul-Azwar Anas dan Khofifah-Dardak. Kedua pasangan ini, sebagaimana dikatakan Yenny Wahid adalah kader-kader terbaik NU untuk Jawa Timur. Tugas kita selanjutnya, menurutnya, adalah mendoakan pemimpin yang terpilih bisa membawa maslahat dan kebaikan bagi masyarakat Jatim dan memastikan tidak ada perpecahan di kalangan umat.  Jangan sampai keutuhan bangsa tercerabut hanya karena persoalan politik lima tahunan. Wallahu A’lam. 
________________
Gambar: grid.id