Terbaru

Contributors

Di Mata Hanung, Bumi Manusia Tak Lebih dari Novel Cinta-Cintaan


Wardi, Penulis.

Beberapa hari ke depan, mungkin kita masih akan diramaikan dengan perbincangan soal perlu atau tidaknya novel Bumi Manusia difilmkan sesuai pandangan Mas Hanung sebagai Sang Sutradara. Sebelum menonton film Bumi Manusia, ada baiknya kita tonton perdebatannya dulu.

Reaksi konsumen film Indonesia pun mulai menunjukkan euforianya. Termasuk saya yang sebenarnya tidak amat menikmati film-film Indonesia, karena pacar saya selalu merekomendasikan Drama Korea sebagai tontonan. Ada yang mendadak mau salto dari saking senangnya mendengar akan ada film Bumi Manusia. Apalagi aktornya Iqbal Dilan.

Namun ada juga yang tiba-tiba pusying. Sejak casting pun mulai mual-mual melihat pemerannya. Mereka melihat secara kritis pada pentingnya karakter kuat seorang aktor, tentu selain penampilan akting, ketampanan dan kejombloan. Hmm.

Konon, nasib Buruk Bumi Manusia akan benar-benar ditentukan oleh film Mas Hanung itu nantinya. Khawatir novel Bumi Manusia akan ditafsirkan dengan sangat dangkalnya. Ada banyak pengagum karya-karya Bung Pram yang sudah mulai menaruh kecewa. Berprasangka buruk sejak dalam ide difilmkannya Bumi Manusia.

Tentu, mengingat pernyataan Mas Hanung sendiri ketika ditanya terkait apa yang ia tangkap dari Bumi Manusia. Mas Hanung menyatakan, "Saya pikir saat baca (buku) Bumi Manusia, dibanding Ayat-Ayat Cinta, lebih berat Ayat-Ayat Cinta."  Hanung Bramantyo menganggap novel 'Bumi Manusia' tak seberat 'Ayat-Ayat Cinta', ia pun menilai cerita dalam karya Pram itu adalah kisah cinta remaja. Seperti dilansir dari situs resmi cnnindonsia.com (28/05).

Artinya, sesuatu yang bisa dianggap gagal dilihat Mas Hanung adalah hakikat Bumi Manusia itu sendiri. Novel itu tidak berdiri sendiri, ia tidak bisa dilepaskan dari tiga novel lanjutannya. Bumi Manusia adalah apa yang ditulis di belakang halaman sampulnya, sebagai novel penyemaian seorang Minke. Momen paling hakiki Bumi Manusia terletak pada perkenalan Minke dengan Nyai Ontosoroh. Itu adalah awal perubahan paradigma Minke mengenai Eropa-Pribumi, dan gerak perjuangannya yang dimatangkan melalui proses panjang dan menyakitkan di buku-buku berikutnya setelah Bumi Manusia.

Lha, sebagian konsumen film Indonesia, termasuk saya salah-satunya, menilai bahwa Mas Hanung kurang tepat menyutradarai film ini. Mengingat Bumi Manusia adalah novel sejarah yang ditulis sastrawan yang berlatarbelakang nasionalis dan jiwa abangan.

Sedikit banyak, latar belakang keluarga dan sosial bisa mempengaruhi kebebasan, lho, Mas Hanung. Ya, sekalipun Mas seorang profesional.

Apalagi Mas Hanung bukan seniman film yang kritis seperti Om Garin Nugroho, kayaknya. Pemilihan sebagai sutradara dalam film Bumi Manusia, jujur membuat saya musti bergabung ke dalam lingkaran kalangan yang pesimis.

Mengingat Mas Hanung yang terlalu sering membikin sensasi terlebih dahulu untuk memasarkan filmnya. Seperti yang terlihat pada kasus film karya dia sebelumnya, dari 'Perempuan Berkalung Sorban' sampai film biopik 'Soekarno'.

Ingat film Soekarno, yang terlihat justru malah biografi Soekarno yang tampak lemah dan melankolis soal percintaan. Iya, enggak, sih?

Tetapi, mau gimanapun, jika pemilik hak-cipta atau pewaris atas novel Bumi Manusia tersebut merestui, kita tetap harus menghormati. Apalah saya dan mereka, sampah plastik yang mengambang di laut selatan kok.

Sementara Mas Hanung, mau diakui atau tidak, juga termasuk salah satu sutradara terbaik milik Indonesia, saat ini. Seperti yang disampaikan Akademisi Ariel Heryanto itu.

Hal lain yang membuat saya enggemesyiin adalah ketika menemukan kalimat pernyataan begini "Sedangkan Iqbal menyadari, sedikit banyak karakter Minke hampir sama dengan kehidupannya saat ini."

Sungguh sesuatu yang gubruwaaakk.

Kalau saya sendiri melihat karakter Iqbal, kalau boleh bilang (enggak dibolehin sekalipun sebenarnya saya akan tetap bilang) dia itu justru jauh sekali dari karakter kristis Minke. Minke yang sangat keras mengkritik feodalisme Jawa dalam novel tersebut, betapa bukan Iqbal yang makek belangkon itu.

Sementara remaja yang baru saja dimabuk gombalan-gombalan Dilan, turut mendukung ala menye-menye supaya  tetap difilmkannya Bumi Manusia. Menilai Mas Hanung memilih aktor Iqbal adalah tepat. Meski itu, juga belum tentu salah.

Kalangan remaja tersebut dengan terang-terangan dan tanpa malu tidak kenal siapa itu Bung Pram. Mereka menilai Bung Pram harus bersyukur karena novelnya mau difilmkan.

Ya, mungkin memang Bung Pram tak sehebat Tere Liye di matamu, Gaes. Dan kamu kira Minke bakalan nge-gombal seperti Dilan?

Tapi enggak papa juga kalian membayangkan Minke ngomong sama Annelies begini: "An (sapaan akrab untuk Annelies), aku ramal, suatu saat kita bakal naik kuda berdua."

Atau membayangkan Annelies ngomong begini: "Mas Minke, nampaknya banyak yang sayang padamu. Sayang aku tak banyak mengerti."

Sebenarnya bukan cuma remaja-remaja di atas yang turut mendukung Mas Hanung menggarap film, sebagian orang tua yang punya pandangan berbeda juga tetap mendukung Mas Hanung berkarya.

Hanya, tolong jangan Bumi Manusia, katanya, tetapi Manusia Bumi. Terserah mau milih yang dari Bumi Datar atau Bumi Bulat. Karena yang jelas meskipun Minke Islam seperti kata Annelies, ia tak terikat dengan Islam garis lurus atau garis lucu. Islam cebong maupun kampret.

Nah, sekarang maafkan saya, Bung Pram, kalau saya tidak teramat berharap novelmu yang dahsyat itu difilmkan.

Atau memang hanya saya saja yang terlalu lebay berharap seideal khayalan saya ketika membaca novelmu. Ini tentu berbeda dengan apa yang terlihat di mata saudara-saudara saya. Terkait novelmu tak lebih hanya novel cinta-cintaan, katanya. Duh.

(Gambar: kapanlagi.com)