Terbaru

Contributors

Penyair yang Lelah dengan Ulah Zaman



Isom Rusydi, penyair.

Barat tidak bisa disatukan dengan Timur. Kehidupan di Barat adalah materialistis dan individualistis diperparah dengan tanpa moralitas dan agama. Bagaimana suatu peradaban bisa maju sedangkan spiritualitas dan ilmu sangat penting bagi peradaban itu sendiri telah dihilangkan.

Ketika Ghoete meratapi Barat dengan bukunya yang legendaris, West-Oestlicher Divan, segeralah Iqbal tanggap. Iqbal dengan segenap kepeduliannya tahu apa yang terjadi dalam diri penyair Barat yang senang dengan dunia Timur itu. Ratapan Ghoete adalah sebuah keluh kesah tentang kondisi Barat waktu itu ketika materi berada di atas segala-galanya. Barat sakit. Ghoete ingin Barat bisa bersatu dengan Timur atau paling tidak bisa langit Barat bisa dipenuhi dengan spiritualitas. Tak ada yang berani menjawab tantangannya. Kecuali Iqbal.

Penyair dan ilmuan Pakistan itu berpesan dalam buku puisinya yang terkenal, Payam-i-mashriq,

Saya tahu di kegelapan Timur, tidak ada cahaya tangan Musa atas Fir’aun.

Barat tidak bisa disatukan dengan Timur. Kehidupan di Barat adalah materialistis dan individualistis diperparah dengan tanpa moralitas dan agama. Bagaimana suatu peradaban bisa maju sedangkan spiritualitas dan ilmu sangat penting bagi peradaban itu sendiri telah dihilangkan.
Namun, kemustahilan oleh Iqbal diberikan resep mujarab. Ia melanjutkan sabdanya,

Wahai penghuni negeri-negeri Barat, alam milik Tuhan ini bukan toko.
Yang kau anggap barang berharga akan terbukti bernilai rendah.
Peradaban Anda akan bunuh diri dengan pisau Anda sendiri.
Sarang yang dibangun di atas dahan yang rapuh tidak bertahan lama.


Intinya: Peradaban yang hanya berlandaskan materi akan segera menemui ajalnya.
Ratapan-ratapan orang Barat juga didengar Rabindranath Tagore, orang India yang mendapat Nobel Sastra itu. Dia ingin menyampaikan pesan-pesan kepada Barat, tapi ia ragu, apakah mereka akan mendengarnya. Dia pun memulai pesannya,

Namaku matahari.

Hingga kini aku hanya menyinari Timur.
Kini sang matahari beranjak ke Barat.
Untuk melihat apakah ia dapat menyinari negeri-negeri itu,
Sehingga mereka mengalihkan pandangan kepadanya,
Yang tidak memperdulikan Timur atau Barat

Tagore sepertinya netral. Dia tidak mengatakan suka atau tidak suka kepada Barat, karena dia tidak peduli Barat atau Timur. Sama-sama milik Tuhan, kata Ghoete.

Usaha ketiga penyair untuk menyadarkan Barat dan segera bangun cukup ampuh. Barangkali dengan usaha tersebut, langit Trafalgar Square dan sekitarnya dipenuhi dengan azan, atau pelacur-pelacur yang mangkal di Red Light District, Belanda bisa insyaf. Barangkali seperti itu.
Harapan penyair kadang-kadang penuh metafor.
***
Terima kasih banyak untuk Prof. Hamid atas inspirasinya. Buku Anda hebat.

(Sumber Gambar: penjilid.blogspot.com)