Terbaru

Contributors

Kata Izon, Dilarang Jatuh Cinta Sebelum Pintar Memasak


Maeda, calon manten.

Ini curhat teman saya:

Namaku Izon. Aku perempuan yang kerapkali dibilang agak tomboy dan sering mendapat peran sebagai pangeran ketika acara pementasan bertema kerajaan  di SMA dulu. Di rumah, aku dekat sekali dengan ummi (baca: ibu). Aku menjadi teman curhatnya, teman  bertamu, dan juga teman memasak. Tapi parahnya kepandaian ummi memasak tidak aku warisi sama sekali. Finally, di semester akhir kuliahku, aku jatuh cinta sama lelaki bernama Eros. Awalnya aku tidak yakin memasrahkan hatiku begitu saja kepada lelaki lain selain Abah. Aku miris melihat beberapa pengalaman teman-temanku yang nangis-nangis, sedih, murung hanya karena laki-laki. Tapi ternyata idealisme dan segala bentuk kriteria akan hancur tak berdaya di hadapan perasaan yang agung. Eaaakkkk.

Kalian belum muntah kan baca ceritaku sampai di sini? Oke, lanjut. Setahun setelah kuliah, aku mengalami bête kelas parah gara-gara semua keluarga dan tetangga menghantamku dengan pertanyaan “kapan nikah?”. Bagiku, cinta memang butuh nikah tapi sayangnya nikah gak cuma butuh cinta. Nikah butuh kesiapan mental, nikah butuh penerimaan yang luas, nikah butuh kestabilan ekonomi. Tidak hanya itu, parahnya menikah juga butuh keahlian memasak agar cinta terus mengalir, ekonomi juga stabil. wkwkwk.

Setelah menikah, Eros memintaku tidak tinggal di rumahnya juga tidak di rumahku. Kami memutuskan merantau. Eros membuka usaha dengan mengandalkan keahliannya dalam mengurus tetek bengek soal gigi. Memulai hidup baru, dengan lelaki baru, di kota baru itu kayak ngunyah permen Tamarin. Rasanya manis-manis kecut. Akan ada banyak hal yang menjadi ujianmu nanti. Seberat apakah? Rasakanlah jika saatnya tiba. Sungguh, ini tak seberapa dibanding menulis skripsi yang beratnya sering kau galau-galaukan melalui statusmu di facebook. Aku tidak bisa menceritakan semuanya, selain penderitaanku di dalam memasak. Untuk apa? Untuk tidak kau ulangi di masa bila saatmu tiba. Karena di balik masakan yang enak, ada cinta suami yang semakin lengket.

Hari itu aku berniat membahagiakan Eros. Aku berinisiatif bikin masakan sop ayam kesukaanya. Aku pikir tidak rumit, hanya wortel, kentang, kubis dan sedikit ayam. Kuracik bumbu berupa bawang merah, bawang putih, jahe yang lumayan banyak. Biar harumnya kerasa, kutambahi ladaku yang juga tidak sedikit. Berkutat di dapur sekitar 30 menit, dan akhirnya sop ayampun jadi. Hatiku berbunga, merasa bahagia karena berhasil memasak. Sambil menunggu kepulangan Eros, aku mencoba rasanya masakan pertamaku. Seduhan pertama,… ya Allah pedas tiada tara. Rasanya nggak karuan. Aku tak sampai menelanya, buru-buru memuntahkanya. Menaruh ladaku dalam masakan secara berlebihan itu yang bikin pedas.

Kegagalan telah berlalu. Sejauh ini Eros sama sekali tidak pernah menanyaiku kapan aku akan menyuguhkanya masakan. Tapi aku sadar, semua harus dimulai, harus mau dipelajari. Aku memutuskan bikin ayam rica-rica untuknya. Ke pasar beli ayam satu kilo. Pikirku, biar makanya banyak karena kebetulan hari itu kami puasa. Harumnya menyeruak, daging ayam masakanku menggungah selera. Sepuluh menit sebelum adzan, semua hidangan sudah siap. “wah, kelihatanya enak sekali nih ayam” kata Eros sembari melempar senyum memuji hasil kerjaku. Saat waktu berbuka tiba, ayam rica-rica masakanku sungguh luar biasa. Rasanya masya Allah,.... pahit. Ternyata aku terlalu banyak meracik bumbunya. Ya Rahman… cerdaskanlah aku dalam memasak.

Kegagalan untuk kedua kalinya telah terjadi. But show must go on kan ya? Oke, aku mau mencoba masak lagi. Berhubung hampir tiap sore Eros beli gorengan samping kontrakan, maka untuk ketiga kalinya aku bikin bakwan goreng. Mudah, simpel dan jika harus gagal lagi tidak terlalu  menghabiskan uang banyak. Tapi aku tetap semangat dan berbaik sangka. Masakan kali ini akan berhasil. Semua bahan sudah diracik. Aku mulai menggoreng adonan. Tiba tiba si kecil Rifka nangis minta dinenen.

Gorengan tetap berlanjut, tak peduli apapun aku menggendongnya. Dalam dekapanku, tak butuh waktu lama Rifka sudah terlelap. Aku merebahkannya di tempat tidur dan berniat segera kembali ke gorengan yang kuabaikan. Tapi Rifka melek lagi, sadar aku akan meninggalkanya sendiri. Ia merengek minta ditemani. Aku pasrah, tak pernah sanggup menukar kenyamannya dengan hal apapun. Sampai akhirnya Rifka benar benar terlelap. Aku bergegas ke dapur, melihat kondisi bakwan. Alhamdulillah… bakwannya menyerupai warna kopi. Hitam legam.

Kegagalan demi kegagalan aku lalui,  sampai akhirnya sedikit demi sedikit aku mulai bisa memasak. Aku girang, suamiku jarang makan olahan mbak-mbak warung. Aku banyak belajar dari kegagalan. Apalah artinya aku duduk di bangku sekolah selama beberapa tahun, tapi kalau urusan rumah tangga aku kalah mutlak dibanding ummiku yang hanya tamatan SD. Ternyata apapun memang penting dipelajari, dan bangku sekolahnya tidak hanya di ruang kelas. Kita bisa belajar di mana saja, kita bisa belajar apa saja, dan kepada siapa saja.  Sambil membilas cucian, aku menyadari sebuah pepatah, bahwa pengalaman adalah guru terbaik  itu benar adanya.

Dear, pembaca yang budiman, setelah selesai menulis ini, aku  jadi ingin berdoa untuk kalian, semoga yang jomblo segera bertemu jodoh dan yang sudah menikah semakin sakinah. Dan jangan lupa pesan Izon: nikah gak cuma butuh cinta, tapi juga keahlian memasak. So, jangan buru-buru jatuh cinta sebelum pintar memasak. Selamat belajar memasak ya syantikkk.