Terbaru

Contributors

Pesan Kaum Sufi untuk Para Jomblo


Paisun, Penulis.

Pesan yang akan saya sampaikan ini tidaklah dari saya sendiri. Sepenuhnya saya sadur dari buku, “Tiada Sufi Tanpa Humor” karya Imam Jamal Rahman. Karya ini saya kira cukup luar biasa karena dalam beberapa hal mampu menyentil kesadaran kita tanpa harus menggurui karena disampaikan dengan cara lelucon. Sesuatu yang disampaikan dengan cara lelucon memang lebih efektif dan tidak akan menimbulkan “bara” di hati pendengarnya. Mungkin karena itulah, humor dipilih oleh kaum sufi untuk menyampaikan nasihat kepada semua orang. Di Indonesia, Gus Dur menjadikan humor sebagai media perlawanan, terutama kepada pemerintah yang otoriter.

Kembali kepada soal “jomblo”. Tak sedikit jomblo karena merasa belum menemukan calon yang cocok. Ini terjadi bisa karena hal-hal berikut: pertama, kurang percaya diri. Rasa kurang percaya diri bisa saja terjadi lantaran dirinya merasa memiliki banyak kekurangan dan belum menemukan kelebihan dirinya. Akibatnya, ia tidak kunjung menemukan pasangan yang cocok karena merasa semua orang tidak pantas bersanding dengannya. Ia merasa dirinya sebagai seorang yang “tak laik jual”.

Kedua, mempunyai angan-angan yang tinggi dan bermaksud mencari perempuan tanpa cela, sempurna tiada tara. Mengimpikan perempuan cantik, shalihah, kaya, “keturunan” dan lain sebagainya tentu tidaklah salah. Hanya saja, dalam menentukan kriteria calon istri, juga perlu menimbang-nimbang diri sendiri. Kita perlu tahu dan menyadari dengan sepenuh hati tentang keadaan diri kita sendiri. Ini perlu dilakukan agar tak ada yang merasa dirugikan. Itulah mengapa dalam Islam menyaratkan sekufu’ satu sama lain, antara calon suami dan isteri. Ini agar tidak ada yang dirugikan. 

Terobsesi dengan perempuan sempurna sementara diri kita belum mencapai derajat itu hanya akan memperpanjang masa aktif kejombloan kita. Hal itu mirip dengan kisah sufi yang dituturkan oleh Imam Jamal Rahman dalam “Tiada Sufi tanpa Humor” halaman 216 berikut ini. Mullah membuang setengah hidupnya mencari isteri yang sempurna. Setelah lama mencari, dia bertemu seorang wanita di Damaskus yang hampir sempurna: wanita itu cantik, tapi tinggginya sedang dan Mullah ingin anak-anaknya tinggi. Di Baghdad, dia bertemu dengan seorang wanita yang cantik dan tinggi, tetapi memiliki suara yang tidak menyenangkan. Bagaimana mungkin dia menghabiskan seumur hidupnya mendengarkan suara seperti itu? Di Kairo, dia akhirnya bertemu dengan wanita yang benar-benar sempurna! Wanita itu tinggi, menakjubkan, dan memiliki suara malaikat. Ketika ditanya mengapa tidak menikahinya, Mullah menjawab, “Sayangnya, dia juga sedang mencari pasangan sempurna.”

Begitulah kalau kita mencari calon isteri yang sempurna, tidak akan pernah menemukannya. Karenanya, agar jomblomu sekalian cepat berakhir, ingatlah pesan kaum sufi di atas: jangan mencari pasangan sempurna, tapi carilah pasangan yang bisa menyempurnakan hidup kita.

(Gambar: chartesite.wordpress.com)