Terbaru

Contributors

Ruang Kosong di Balik Cinta


Ainur Rifqi, Penulis.

Cinta adalah rasa suka, sayang, kasih, ingin terhadap sesuatu. Cinta merupakan fitrah manusia. Cinta layaknya jelangkung, datang tak diundang dan pulang pun tak diantar. Cinta datang kapan saja dan di mana saja. Begitu pun sebaliknya, cinta bisa saja hilang pada saat-saat yang tidak disangka. Sekarang cinta, kemungkinan nanti telah tiada. Itulah cinta. Lima huruf yang sungguh misterius. 

Bagi sebagian orang, cinta dianggap tidak seperti jelangkung. Ia hadir pada saat-saat dan jalur-jalur tertentu. Rasa kagum menjadi bagian dari hadirnya cinta. Lahirnya rasa kagum bisa dimungkinkan karena faktor profesi, kecantikan atau ketampanan, kekayaan, dan lain sebagainya. Jalur-jalur ini menjadi suatu hal yang bisa menjadikan cinta itu ada. Namun, ada salah seorang yang mengatakan bahwa jika hadirnya cinta karena sebuah ‘illat, bukan cinta yang sesungguhnya, maka ia merupakan cinta yang akan cepat berakhir. Sebab, baginya, ‘illat itu bisa saja akan punah. Sehingga, ketika tiada, cinta pun sirna. Entahlah, penulis masih belum bisa merefleksikan. Akan tetapi pada intinya, cinta itu tidak mungkin hadir karena sebuah kebencian.  

Kemudian, lanjut dari hadirnya cinta, para pecinta seringkali menyalahgunakan cinta itu sendiri. Cinta tidak membuatnya menjadi motivasi dalam perkembangan hidupnya. Cinta menjadikannya sebagai penghambat dalam belajar. Atau justru menghalalkan segala cara hanya sebatas ingin melepas rindu. Perilaku seperti ini tidak sepantasnya dimilliki oleh sang pecinta. Mencintai bukan menjadi jalan menuju kemerosotan, ketergantungan, atau bahkan kemaksiatan.  

Kesalahan selanjutnya adalah tidak memberikan ruang kosong di balik cinta. Pernah, tidak? Mendengar pertanyaan, “Sampai dimana kau memberikan harapan atau kepastian kepada seseorang yang kau cintai?”. Jawabannya, “Barangkali saya tidak pernah mengatakan bahwa 'Saya mau tunangan denganmu', atau 'Nikah denganmu', tetapi ketika sama-sama suka pun sudah menjadi sumpah bahwa kita sudah saling berharap dan mengharapkan”.  

Nah, prinsip ini yang seringkali menjadi kesalahan besar bagi seorang pecinta. Mestinya dalam konteks ini kita bisa memberikan ruang kosong untuk dijadikan sebagai tempat alternatif dalam menerima takdir. Ini ada kaitannya dengan proses 'pencarian jodoh' bahwa proses mencari jodoh tidak cukup hanya dilakukan dengan sekejap. Karena, kita tidak bisa mengira bahwa sesuatu yang kita harapkan akan bisa kita raih. Gagasan ini bukan maksud untuk memutuskan mental seorang pecinta. Akan tetapi, ini adalah langkah bijak menuju proses selanjutnya yang lebih baik. 

Sebab, ini masih dalam tahap proses pencarian jati diri mereka masing-masing. Aku-kamu—kamu-aku. Jika dalam beberapa waktu berlalu, barangkali sudah bisa memiliki kesimpulan atau menemukan titik sublimasi antarkeduanya. Maka, Jika dikira baik (bismillah) teruskan, jika kebetulan 'tidak', berhentilah menuju langkah selanjutnya. Barangkali, ada rahmat lain yang akan diberikan Tuhan. Dalam bagian ini penting kita memberikan ruang kosong untuk takdir—dalam rangka move off, frustasi, dan hal tidak baik lainnya tidak akan terjadi.  

Oleh karena itu, berhati-hatilah dengan cinta. Seringkali, cinta hanya membawa kepada sesuatu yang tidak rasional. Alih-alih bisa merelasikan rasional dengan rasa. Kalau Imam Syafi'ie bisa menyatukan teks dengan akal, maka kita harus bisa menyatukan rasa dengan rasionalitas. Wallahu a’lam bis shawab

(Gambar: davidbadiaraja.wordpress.com)