Terbaru

Contributors

Khutbah Tahun Baru 2019



Tadi malam, jutaan orang di berbagai belahan dunia merayakan Tahun Baru 2019. Pada umumnya mereka merayakan dengan gegap gempita. Masing-masing daerah memiliki cara tersendiri untuk merayakannya.  Akan tetapi, selalu ada pola yang sama: menanti detik-detik datangnya tahun baru dengan meniup terompet dan menyalakan kembang api. Sembari menunggu hadirnya tahun baru, lazim dihibur dengan aneka penampilan, umumnya adalah musik baik yang bernuansa pop, rock, jazz, gambus maupun dangdut.
Hari ini biasanya orang-orang ramai berpelancong ria. Tempat-tempat wisata tumpah ruah oleh manusia. Hiburan disediakan untuk memanja mereka. Semuanya menikmati dengan sukacita. Hajatan tahun baru dibuat meriah. Kemeriahan dianggap tanda bahagia menyambut datangnya tahun baru yang diharapkan dapat membawa kehidupan yang juga baru. Tentunya harapan terhadap perubahan ke arah yang lebih baik dari tahun sebelumnya.
Berbahagialah bila Anda termasuk di antara orang-orang yang dapat menikmati kemeriahan tahun baru. Ketahuliah bahwa tidak semua orang dapat merasakan kemeriahan malam pergantian tahun dengan baik. Di bagian dunia lain, masih ada orang-orang yang jangankan merayakan malam tahun baru dengan gegap gempita, setiap detik  bayang-bayang kematian selalu mengancam akibat perang yang tak berkesudahan. Iraq, Yaman, Suriah, Afghanistan dan Palestina adalah contoh negara yang rakyatnya mengalami hal ini.
Ada pula yang terpaksa hidup dalam pengungsian, tinggal bersama orang-orang senasib dan sepenanggungan. Bisa jadi, mereka sebenarnya memiliki keinginan yang sama untuk menikmati malam pergantian tahun dengan gembira. Tetapi, bencana alam telah meluluhlantakkan impian itu dengan sempurna, bahkan menghanyutkan sebagian keluarga yang seharusnya masih bisa hidup bersama. Saudara-saudara kita di Lombok, Palu dan Pandeglang termasuk dalam contoh ini.
Tidak sedikit pula yang sebenarnya ingin merayakan tahun baru dan berlibur bersama orang-orang terdekat: keluarga atau sahabat. Tetapi ada saja halangan yang tidak bisa diganggu gugat, salah satunya adalah sakit. Bisa jadi, ia sendiri sehat wal afiat, tetapi kelurga dekatnya yang justru sakit keras. Mana mungkin ia akan bisa menikmati perayaan tahun baru jika orang-orang terdekatnya justru menderita kesakitan?
Karenanya, sekali lagi, Anda patut bersyukur telah diberi kesempatan untuk merayakan malam pergantian tahun maupun bisa berlibur dengan keluarga. Tetapi jangan lupa untuk tetap tidak berlebih-lebihan. Karena bersyukur dengan cara foya-foya, itu tidak dapat dibenarkan oleh siapa saja.
Jika Anda termasuk orang yang tidak setuju terhadap perayaan tahun baru, tidak usah risau. Nikmatilah harimu sebagaimana biasa. Agar hatimu tidak terbakar oleh amarah, mending matikan televisi lebih dahulu. Matikan juga media sosial  Anda agar tidak mengetahui hiruk pikuk perayaan tahun baru di media sosial. Dengan begitu, maka hidup Anda akan aman, tentram dan damai. Tidak sibuk mengomentari kehidupan orang lain, apalagi sampai memvonis mereka sebagai syirik yang dilaknat Tuhan. Percayalah, kebanyakan mereka hanya mencari hiburan. Mungkin untuk sekadar melepaskan diri dari kehidupan yang rumit dan ruwet.
Selamat Tahun Baru 2019. Selamat berlibur bersama keluarga. Selamat melupakan mantan, asal jangan lupa bayar utang. Karena setiap utang harus dikembalikan tetapi tidak demikian dengan mantan (admin).
(Sumber Gambar: http://www.wairakeichch.school.nz)
--------------------
Kirim tulisan Anda ke: [email protected]