Terbaru

Contributors

INSTIKA dan Gerakan Suluh Kebangsaan Gelar Sarasehan


Gerakan Suluh Kebangsaan yang digawangi langsung oleh Prof. Dr. Mahfud MD, bersama Institut Ilmu Keislaman Annuqayah (INSTIKA) Guluk-Guluk Senin (4/2) menggelar Sarasehan Kebangsaan. Kegiatan ini diletakkan di Aula Pertemuan INSTIKA sejak pukul 09.00-12.40 Wib.

Kegiatan bertema "Mengembangkan Budaya Toleran ala Masyarakat Madura" ini dihadiri langsung oleh Prof. Dr. Mahfud MD selaku ketua Gerakan Suluh Kebangsaan. Dalam sambutannya ia menyampaikan bahwa kegiatan ini adalah gerakan high politic atau politik tingkat tinggi. Gerakan ini sama sekali bukan kepentingan politik jangka pendek atau politik praktis. Gerakan Suluh Kebangsaan merupakan gerakan yang dipicu oleh kekhawatiran terhadap semakin terkoyaknya toleransi di Indonesia akhir-akhir ini, khususnya dalam peristiwa 2 kali pilpres yang telah mengkotak-kotakkan masyarakat.

Selain itu, menurut Mahfud, Madura mirip dengan Aceh. Kalau Aceh adalah Serambi Mekah, maka Madura adalah halaman Mekah. Masyarakat Aceh dan Madura sama-sama memiliki ketaatan yang tinggi terhadap agama. Tetapi perbedaannya adalah di Madura tidak pernah ada gerakan untuk melawan pemerintah seperti di Aceh. Untuk itulah, Sarasehan Kebangsaan ini diharapkan dapat menggali nilai-nilai toleransi dari masyarakat Madura.

Kegiatan Sarasehan Kebangsaan selain menghadirkan Mahfud MD juga mendatangkan tokoh nasional yang berasal dari Madura, yakni Prof. Dr. Abd. A'la, M.Ag., D. Zawawi Imron, dan Dr. A. Malik Madani, M.Ag.

Ketiga tokoh tersebut hadir sebagai pemantik diskusi dalam Sarasehan Kebangsaan ini. Kiai A'la misalnya menyampaikan bahayanya hoaks terhadap masyarakat Indonesia. Ia mencontohkan, KH. Abdullah Sajjad, wafat ditembak mati oleh Belanda karena hoaks itu sendiri. Pada saat itu, KH. Abdullah Sajjad sedang dalam persembunyian. Tetapi karena ada kabar bahwa suasana sudah aman, beliau pun pulang ke Pondok Pesantren Annuqayah. Dan ternyata suasana masih belum aman hingga akhirnya beliau dieksekusi oleh Belanda.

D. Zawawi Imron sebagai Budayawan Madura mnekankan bahwa masyarakat Madura pada dasarnya sangat halus. Menurutnya ada banyak khazanah kebudayaan Madura yang menunjukkan bahwa masyarakat Madura sangat mengagungkan tatakrama. Masyarakat Madura punya filosofi yang menentang hoaks, sebagaimana terdapat dalam beberapa peribahasa Madura.

Sementara itu Dr. A. Malik Madani, M.Ag. mengaku khawatir terhadap banyaknya ide untuk mengubah Indonesia, misalnya menjadi Khilafah. Menurutnya Khilafah hanyalah salah satu bentuk negara, seperti juga republik yang dipilih Indonesia. Ia juga menegaskan bahwa sabda Nabi "antum a'lami bi amri dunyakum" (Kamu lebih mengetahui urusan duniamu) juga termasuk dalam pilihan membuat sistem pemerintahan.

Kegiatan sarasehan kemudian dilanjutkan dengan diskusi bersama seluruh peserta. Diskusi berjalan dengan hangat dan menarik, karena masing-masing peserta menyampaikan dan mengangkat permasalahan di daerah masing-masing ke forum diskusi.

Kegiatan sarasehan kemudian diakhiri dengan foto bersama dan ramah tamah bersama para kiai Annuqayah di Pondok Pesantren Annuqayah Latee. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar