Terbaru

Contributors

Jalan Tengah Menghadapi Covid-19 (Sudut Pandang Dunia Kefilsafatan)

Sumber Foto: Postingan Toni Pangcu di Facebook



Oleh: Maskur Arif

Aristoteles (seorang pencinta kebijaksanaan yang hidup sekitar 384-322 sebelum Masehi) pernah menasihati kita untuk mengambil jalan tengah dalam bersikap dan bertindak agar bisa meraih kebahagiaan atau kepenuhan hidup (Eudaimonia).

Hal tersebut terkenal dengan etika jalan tengah. Etika ini dapat diterapkan, misalnya, dalam menghadapi penyebaran wabah corona (Covid-19).

Jika memakai etika jalan tengah, maka kita harus bersikap dan bertindak "berani" menghadapi Covid-19. "Berani" di sini dapat dimaknai sebagai jalan tengah antara sikap dan tindakan "gegabah" dan "pengecut".

Mengapa harus "berani" bukan "gegabah" atau "pengecut"?

Karena, gegabah adalah sikap dan tindakan terlalu berani sehingga mengabaikan kehati-hatian dan keutamaan rasionalitas. Seperti mau melawan corona tanpa senjata apa pun, hanya berserah diri pada takdir bahkan menganggapnya sebagai hal tidak ada, meskipun sudah banyak bukti korban berjatuhan akibat kebengisan corona.

Demikian juga pengecut. Sikap dan tindakan penakut bahkan terlalu takut ini juga mengabaikan keutamaan akal budi. Lantaran, orang penakut tidak bisa berbuat apa-apa, hanya berdiam diri, pasrah, bahkan jika sudah ekstrem bisa bertindak abnormal; seperti selalu terlihat cemas, waswas, cuci tangan terus menerus tanpa alasan berarti.

Lalu bagaimana dengan "berani"? Berani adalah sikap dan tindakan yang sesuai dengan kerasionalan.

Karena itu, berani, sebagai jalan tengah, bukanlah sebagai kompromi antara gegabah dan pengecut, melainkan melampaui keduanya.

Sikap dan tindakan berani dianggap melampaui karena ia berdasar pada ciri khas yang dimiliki manusia, yakni keutamaan akal budi. Sikap dan tindakan gegabah dan pengecut mungkin bisa dimiliki oleh seluruh binatang, namun manusia bisa melampauinya karena memiliki akal budi.

Karena itu, keberanian menghadapi corona harus sesuai dengan akal budi, lantaran kita manusia.

Jika kita tidak mampu menggunakan daya akal budi kita untuk memikirkan dan melawan corona, karena bukan ahli dunia pervirusan, maka tindakan bijak adalah mengikuti akal budi para ahli, yakni para dokter yang bergerak di bidang tersebut. Kita ikuti logika dan anjuran mereka untuk melawan corona.

Sama halnya ketika kita tidak mampu memikirkan cara beribadah yang benar, maka kita datang kepada para ustadz yang ahli di bidang peribadahan.

Itulah, barangkali pentingnya memilih etika jalan tengah. Di dalam Islam, keutamaan jalan tengah ini terlihat dalam untaian kata-kata terkenal berikut:
Khairul umur ausatuha.

Sekadar berbagi. Mudah-mudahan berguna.

Mari minum jamu... 😊

Tidak ada komentar:

Posting Komentar