Terbaru

Contributors

Pemimpin Militan dan Berhati Sufi

Bukan keris sufi, foto tidak ada hubungannya dengan tulisan. Foto: Voila.id


Oleh: Ainur Rifqi

Secara sepintas saya pahami bahwa kepemimpinan adalah kemampuan untuk menggerakkan sekelompok manusia menuju ke arah cita-cita atau tujuan yang diinginkan bersama, dapat memberikan kontribusi banyak dalam perkembangan yang dipimpin.

Kepemimpinan merupakan suatu proses interaksi dinamis atau kerjasama antara seorang dengan orang lain. Jadi, keberhasilan seorang pemimpin sangat ditentukan oleh kecakapan mereka di dalam bekerjasama dan berkomunikasi secara tepat dengan orang lain.

Layaknya kepemimpinan pada umumnya, peran pemimpin sangat dibutuhkan dalam membina atau membimbing para bawahan. Hal ini selaras dengan tugas utama seorang pemimpin bahwa harus menjalankan amanah atau kepercayaan yang diberikan rakyat. Sebab terkadang,  seseorang untuk mendapat kepercayaan itu mudah tapi untuk menjaga kepercayaan itu yang sulit. Jadi, tidak dikatakan pemimpin ideal kemudian jika tingkat tanggung jawabnya sebagai pemimpin masih di bawah rata-rata.

Tanggung jawab yang diemban seorang pemimpin tidak hanya sebatas struktural saja. Tapi yang paling urgen adalah akhirat juga menunggu pertanggung jawabannya selama memimpin di dunia. Artinya, selain ada tuntutan dari manusia, Allah juga akan menagi akan tanggung-jawab kita selama kepemimpinannya di dunia.

Moid Siddiqui, dalam bukunya Leading From The Hart; Kepemimpinan Berdasarkan Hati (2014)—yang di dalamnya mengajak kita untuk tidak terlena dengan kepemimpinan yang bertujuan duniawi.

Jamak kita ketahui bahwa fenomena korupsi di Indonesia sedang merajalela. Dari saking banyaknya, korupsi tidak menjadi hal yang baru. Sudah menjadi makanan telinga bangsa Indonesia. Media-media hampir setiap hari melaporkan tentang korupsi. Tidak lain, penyebab utamanya adalah karena tujuan kepemimpinan yang dianut mereka selalu mengedepankan materi atau hal yang bersifat duniawi. Mereka penganut paham hedonis dan kepitalis.

Ketika negara Indonesia dihuni oleh para koruptor, kita akan merasa suram. Tindak-tanduk mereka telah berusaha menyuramkan Negara ini. Tapi, pada hakikatnya kesuraman itu bisa kita hapus. Karena selain banyaknya koruptor di Negara Indonesia, masih banyak pemuda-pemuda pemberani yang tanpa kompromi memerangi korupsi di Indonesia. Dan, kepada merekalah kita bisa titipkan harapkan, bahwa masih banyak orang baik di Indonesia.

Konon, Indonesia adalah negara yang paling banyak muslimnya. Maka, penting kiranya kita untuk mencetak pemimpin yang tidak mengedepankan kepentingannya sendiri. Kepemimpinan yang diemban dijadikan sebagai pengabdian terhadap agama (Islam). Yakni, menjunjung tinggi nilai-nilai humanisme dan rahmatan lil alamin.

Pemimpin Berkarakter Sufi

Seperti yang telah dipaparkan di atas, bahwa Indonesia sedang dikelilingi masalah. Baik masalah internal atau eksternal kepemerintahannya. Ketika mengaca terhadap konsep kepemerintahan ideal bahwa setiap sesuatu yang terjadi atau sesuatu yang ada hubungannya dengan kepemerintahan adalah tidak lepas dari peran seorang pemimpin. Jadi, hemat saya timbulnya masalah tidak lain juga ada sangkut pautnya dengan seorang pemimpin. Maka perlu dipertanyakan kemudian, bagaimana sikap atau langkah seorang pemimpin dalam menggerakkan kepemerintahannya? apakah ada yang salah dengan tindakannya? atau ada masalah dengan Tuhan, sehingga Tuhan tidak memberikan solusi baik terhadap kepemerintahan yang dijalankan?

Saya kira, sistem kepemerintahan Indonesia sudah di atas rata-rata. Tapi yang sering menjadi indikator utama adalah karakter yang dimiliki pemimpin yang sering bertolak belakang dengan konsep kepemimpinan yang ideal.

Memosisikan jabatan sebagai prestasi diri. Hal ini menjadi salah satu faktor tidak tercapainya kepemimpinan yang sukses. Karena ketika mengedepankan jabatan maka di situ akan timbul sifat egois. Ketika sifat egois hadir, tunggulah keputusan-keputusan tidak beretika akan turun—yang nantinya menghasilkan keburukan terhadap masyarakat.

Kemudian, hal lain yang juga menjadi penyebab utama adalah kurangnya pemimpin yang arif, sederhana dan rendah hati. Seorang pemimpin sejati tidak mengakui dirinya sebagai pemimpin hebat. Kepemimpinan sejati terletak dalam kearifan, kesederhanaan, dan kerendahan hati. Arogansi dan egoisme tidak punya tempat dalam kepemimpinan. (Moid Siddiqui: 2014)

Para pemimpin dapat banyak belajar dari kearifan orang bijak dan para sufi. Sufi dikenal dengan kekasih sejati Tuhan. Karena mabuk cinta Ilahi. Mereka rendah hati dengan wawasan mereka. Mereka memahami keterbatasan mereka. Mereka sangat yakin bahwa mereka tidak mengetahui seluruh kebenaran. Mereka mengetahui bagaimana kuasa Tuhan ingin menjelma mereka.

Mengakui kesalahan dan menghargai rakyat merupakan seni kepemimpinan yang harus dipelajari dari kearifan para bijaksanawan dan sufi. Sebab, menjadi pemimpin hebat, ciptakan hati sufi yang mengasihi. Di sana ketakutan dan kebencian tidak mendapatkan tempat karena ruang hati yang tak terbatas diisi dengan cinta yag tanpa batas.

Kepemimpinan bukan hal yang sepele, yang hanya bisa kita jalankan dengan santai. Tapi kepemimpinan merupakan tanggung jawab yang besar, yang nantinya akan dipertanggungjawabkan di hadapan sang Maha Mengetahui segala-galanya.

Merawat seorang manusia yang sakit lebih mudah dibandingkan dengan merawat sebuah perusahaan yang sakit. Ketika seorang manusia sakit, itu tidak membuat pikiran dokternya sakit pula. Namun, ketika sebuah perusahaan sakit, pikiran pemimpinnya pun ikut sakit.

Sadarilah mulai sekarang bahwa pemimpin sufi—tidak melupakan keberadaan Tuhan, sangat penting untuk kita terapkan. Karena pemimpin yang bertujuan duniawi tidak akan mengantarkan pemimpin kepada jalan yang lurus. Justru, dengan tujuan itu, mereka akan dilemparkan ke jurang kenistaan. Selamat membaca!

* Mantan Wakil Presiden Mahasiswa, Dewan Eksekutif Mahasiswa Institut (DEMA-I), Institut Ilmu Keislaman Annuqayah (INSTIKA), Guluk-Guluk, Sumenep, Madura.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar