Terbaru

Contributors

Industri Empat Titik Zonk

Coba cari hubungan antara foto dan tulisan. Foto: Voila.id


Oleh: Chairil Anam   

Di desaku, Kang Tarzan cukup terkenal. Kini ia sudah berkepala empat dan dikaruniai dua anak. Semasa muda, karena sebuah penyakit ia harus kehilangan kecanggihan matanya. Ya, kini ia buta.

Selain ia digelari ustadz oleh masyarakat setempat, yang kadang ngisi khutbah sholat jum'at, ia juga berjualan peci dengan ngelapak di sebuah kerumunan. Hebatnya, dia tidak pernah keliru menentukan nominal uang hanya dengan merabanya saja. Campurkan saja uang lembaran seribuan, lima ribuan, sepuluh ribuan dan nominal sebagainya; ia takkan meleset untuk memilahnya. Jika ada yang usil mengurangi jumlah uang ketika membayar peci, dia spontan akan protes.

Ia memiliki telepon genggam dan tak pernah menyimpan nomor telepon kawan-kawannya. Ya, ia hafal semua kontak kawan-kawannya. Jika suatu kelak kau bertemu dia saat ngelapak peci dan ia menebeng bonceng motor kepadamu untuk pulang atau pindah tempat, dia akan tahu dimana ia harus berhenti. Jika kau usil, dia akan memberhentikanmu. Bahkan dari segala arah. Sesekali dia butuh bantuan untuk menentukan arah kiblat saat shalat. Jangan sekali-kali usil untuk memutar tubuhnya, jika sudah panceng dengan kiblat, ia tidak bisa ditipu arah. Itu sedikit kisah yang kutahu tentang dirinya. Dan dia hidup di Era Industri 4.0, yang katanya dengan karakteristik IoT (Internet of Think). Lalu, teknologi apa yang ada di dalam diri Kang Tarzan?

Halah, dari beberapa tahun terakhir entah berapa poster seminar njubleg bahas ihwal industri 4.0. Pakde Didi Kempot, Ayahanda Ambyar Nasional, jangan kalah dong.  Poster konsermu lebih dinanti-nanti. Jerman gak mungkin bisa goyang sambil nginget mantan calon mantu ibu kita.

"Kita harus melangkah maju!" Teriak para visioner kekinian. Tapi, sulap bukan sih kalo sekali melangkah kaki kita langsung sampe ke 25 tahun mendatang, tuiiing. Cermati saja banyak jargon "Menyambut Masa Emas Indonesia Tahun 2045" di setiap sudut tahun 2020. Jadi,  kita apresiasi kegigihan mereka untuk selalu optimis atau?

Faktor-faktor non teknologi, tutur Klaus Schwab, lebih susah untuk diprediksi, ketimbang menebak laju teknologi . Seperti tekanan demografis, pergeseran geopolitik, norma sosial, dan budaya baru. Jadi, yang dimaksud Masa Emas 2045 itu di ranah apa, kalo Klaus Schwab yang fokus pada kajian Revolusi 4.0 pun keblinger juga. Itu loh dia yang nulis The Fourt Industrial Revolution. Dan maaf, saya pribadi menerjemahkannya menjadi Industri Revolusi Empat Titik Zonk.

Oke, mungkin gerak teknologi petanya konkret. Xiaomy, hari ini rilis gadget RAM 6, besok bisa dua kali lipatnya, 12 RAM. Nah, kalo anak-anak kampung kayak saya, akhirnya kenal Tinder (aplikasi kencan) terus ketemuan clubing bareng. Akses yang mudah, kesempatan perubahan gaya hidup saya pun lebar, budaya-budaya baru tercipta. Besok saya jadi apa? Semoga saja jadi Gus Miftah, lalu hadir sebagai bintang tamu di podcast-nya Dedy Corbuzier. Ah, indahnya mengkhayal.

Aku Kangen, Kamu Lagi Apa, Kita Putus

Semenjak Pandemi COVID-19, kebijakan kampus saya pun mengikuti instruksi pemerintahan pusat. Akhirnya, saya dan kawan-kawan lain kuliah daring. Dan betapa gembiranya kami. Sebab, dalam bayangan kami kita bisa kuliah sambil rebahan. Toh, kalo kuliah di ruangan kelas pikiran kami, kalo gak ingin cepat pulang, main, kalau dapet tugas pengennya take home. Yang jelas, jangan di ruangan kelas. Jenuh!

Naas saat kuliah daring berlangsung, kami kerepotan. Tambah jenuh. Saya kira cuma saya saja yang merasa begitu, eh status teman-teman ihwal kuliah daring juga sama; menjengkelkan. Ditambah waktu kuliah daring diperpanjang kami malah muak. Jika kami tak paham, kami hendak bertanya ke siapa? Nanya ke teman yang pintar, capek ngejelasin maksud pertanyaan kita. Orang tua? Sekalipun barangkali sama pernah kuliah, tapi mungkin beda konsentrasi. Tidak ada sela-sela guyon di tengah pelajaran. Jenuh. Yang dulu, masih sempet-sempetnya main gadget di tengah kelas berlangsung, kini mantengin gadget sudah dilist sebagai hal yang membosankan. Kemana hebatnya teknologi?

Ya, teknologi cuma alat. Atau bahasa kasarnya pembokat kita. Bukan subjek. Kita sering tidak terima jika dikatakan robot. Tapi, sebentar marilah kita sedikit refleksi siapa kita di era Industri empat titik zonk.

Seolah-olah kita menempatkan kampus yang masuk dalam kategori era 4.0 adalah yang punya alat ini itu. Seolah-olah orang yang punya gadget RAM 6 adalah manusia yang mengikuti era 4.0. Seolah-olah yang punya PC ROG adalah yang hebat di era 4.0. Jadi, subjeknya teknologi, bukan kita?

Apa gak sebaiknya konsepsi kita begini di era sekarang; perihal ada yang naik sepeda, ada yang naik motor, bahkan ada yang naik mobil untuk pergi ke kampus tidak ada perbedaan. Yang terpenting saat jam kelas, kita sama-sama sudah di kelas. Kita adalah subjek, dan kendaraan atau alat buah teknologi hanyalah pembokat kita. Di era sekarang banyak pilihan, semua sama. Nokia, Xiaomy, Realmy, Iphone, Oppo, Vivo dan kawan-kawannya, hanyalah alat. Yang terpenting, chat  kita masuk di notif Si Doi. Gak mungkin kita kirim pesan "aku kangen", kalo pakai Nokia berubah kata jadi "kamu lagi apa" kalo pakai Vivo berubah kata jadi "kita putus!". Kita bukan robot, bukan? Seorang fotografer kamera analog tidak akan kehabisan kreativitas, sekalipun pesaingnya menggunakan kamera 4k ala Lumix-lumix club. Sebab, manusia adalah subjek yang memiliki daya berpikir yang canggih.

Menjadi manusia yang manusia memang sulit. Namun, atas permasalahan di atas, kiranya manusia memiliki ruang heatagognya. Di mana kemampuan diri adalah prioritas utama manusia. Kang Tarzan, mungkin contoh yang mampu belajar atas kemandiriannya.

Saya yakin, kesadaran pribadi bisa membuat kita hidup di era manapun. Dalam heatagogy, kita akan melihat era 4.0 semacam sebuah prasmanan. Pilihan kita lengkap. Tapi, bukan berarti yang memilih makan capcay kalah keren dengan yang makan steak sapi. Era kita menyuplai berbagai selera, bukan mengklasifikasi cita rasa. Jangan salahkan, barangkali masakan chief  Juna yang dimasak dengan pengaturan panas yang akurat, sementara masakan tradisional hanya dimasak di pawon; masih memiliki peminatnya masing-masing.

Pembaca yang budiman, kata Kang Fauz Noor, ada ungkapan Aristoteles yang telah diterjemahkan oleh banyak cendekiawan; selalu  optimislah bahwa al-khoir bastoh, jika suatu hal mengandung kebaikan maka akan terus berkembang. Jangan capek jadi manusia!


*Seorang kuli yang kuliah Jurusan Filsafat. Tinggal di Cirebon.








Tidak ada komentar:

Posting Komentar