Terbaru

Contributors

Demam Nilai, Minim Proses

Foto ada hubungannya dengan tulisan, tapi harus dicaricarikan. Foto: Ghafur Abdullah 

Oleh: Moh. Tamimi*


Jangan silau pada hasil, tetapi berbanggalah pada proses

Anak-anakku yang baik lagi berbudi pekerti. Ini bukan nasehat seorang guru sufi kepada muridnya. Ini nasehat seorang guru yang juga tengah belajar kepada murid-muridnya.  Cintaku pada kalian setinggi langit-langit dalam kelas, sedalam laci dalam bangku.

Anak-anakku, kalian belajar dengan susah payah, berangkat sekolah dengan uang saku dari orang tua. Orang tuamu menaruh harap masa depan cerah untukmu  dengan ilmu pengetahuan, sang cahaya kehidupan.

Aku tahu kalian lelah, letih, lesu, ingin cepat pulang, liburan, bermain, dan semacamnya. Itu fitrah anak-anakku. Aku pun begitu. Aku ingin tidur saja kadang, namun kebanyakan tidur juga tidak enak dan lesu. Lalu, aktivitas apa saja yang tidak bikin lesu?

Aku tidak tahu, mungkin semua yang disenangi kita membuat kita tidak lesu mengerjakannya.

Akan tetapi, jika banyak hal membuat kita lesu pada akhirnya, mengapa kita tidak melakukan yang bermanfaat saja, lesu boleh, tapi ada manfaatnya.

Melakukan sesuatu tanpa didasari ilmu pengetahuan akan mengurangi nilai dan kualitas apa yang kita kerjakan. Sama-sama bongkar pasang motor, namun orang dengan tanpa pengetahuan yang mumpuni, ia hanya bisa menduga-duga, tidak bisa menganalisis dengan benar. Berapa kecepatannya, kekuatannya, penggunaan bahan bakar seberapa irit? Mungkin kita yang suka “bengkelin" motor, memperbesar gasnya, memindahkan jarum gas di mesin, supaya makin kencang dengan konsekuensi semakin boros. Tidakkah kita berpikir, bagaimana caranya membuat motor cepat tapi bahan bakar irit?

Seorang siswa SMP di Jawa mampu membuat “kontak" motor dengan menggunakan e KTP, sehingga kemungkinan dicuri dengan kunci seribu (kunci T) semakin sulit, tak ada colokannya di situ.

Anak-anakku,  masihkah kita akan bermalas-malasannya dengan hanya mengandalkan orang tua, padahal orang tua kita mengandalkan kita untuk masa depan kita sendiri. Mereka banyak berkorban, membelikan kita hp, laptop, motor, demi kelancaran proses belajar kita, walaupun dapat ngutang.

Anak-anakku,  bukan nilai yang membuatmu ahli. Nilai tidak bisa sepenuhnya dipertaruhkan, proses belajarlah yang lebih penting daripada sekadar nilai. Mungkin kamu akan mendapat beberapa keberuntungan dari nilaimu yang tinggi, nilai cukup dijadikan motivasi untuk terus berproses.

"Sudahlah, yang penting belajar, tidak dapat nilai tidak kenapa." Jika konteksnya di sekolah, nilai penting, karena para guru menilai kinerjamu, prosesmu, sebagai apresiasi terhadapmu. Jangan terlalu bangga dengan nilai tinggi,  jika kita tidak menjalani proses dengan baik.

Bagiku, tak usah demam nilai, tapi minim proses. Akan tetapi, teruslah berproses, kita akan mendapat nilai dari proses kita.

*Guru murid-murid kece.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar