Terbaru

Contributors

Perjuangan Membeli Baju Lebaran (Catatan Hati Seorang Suami)

Ketika bulan puasa semakin dekat, pembicaraan mengenai baju lebaran mulai memikat. Dimulai dari rumah sendiri hingga ke rumah tetangga atau sebaliknya.

Istri dan anak mulai bertanya-tanya.

"Ayah, apakah sudah punya uang untuk beli baju lebaran nanti?" Tanya anakku yang mungkin disuruh ibunya.

"InsyaAllah, punya," jawabku tenang.

Selalu seperti itu jawabanku. Setiap tahun. Jawaban dengan ekspresi wajah yang tenang dan mantap membuat mereka bahagia, meskipun sebenarnya uang belum ada.

Sebagaimana para suami dan seorang ayah pada umumnya, aku tidak ingin menyakiti hati mereka. Apalagi senyum mereka memberikan ketenangan, kebahagiaan dan kekuatan dalam menjalani hidup.

Karena itu, kata-kata yang dapat membahagiakan mereka selalu kupakai dalam berkomunikasi, dan menghindari kata-kata yang dapat menyakiti.

Rupanya, jawaban membahagiakan itu tidak selalu berjalan mulus. Pernah suatu ketika, tatkala waktunya harus membeli baju lebaran, ternyata uang belum ada. Padahal jauh-jauh hari dengan mantap bilang punya. Akhirnya, mereka menangis setelah kukatakan apa adanya.

Aku menyesal tidak jujur sejak awal. Tapi, mau bagaimana lagi, semua usaha yang halal dan mampu kulakukan sudah kujalani. Akupun siap dibully oleh anak dan istri.

Aku tidak mau marah apabila istri mengatakan aku sebagai suami yang lemah. Sebab, aku tidak ingin seperti kata pepatah, "Buruk rupa cermin dibelah."

Aku menganggap orang lain termasuk istriku adalah cermin untuk melihat siapakah aku sesungguhnya. Jika ia mengatakan aku lelaki yang lemah, barangkali itu adalah cermin mengenai aku yang sebenarnya. Apakah aku harus marah dan merusak cermin itu?

Tentu tidak, bukan? Ia tidak salah. Aku yang harus berbenah sekuat  tenaga dan upaya sebelum kemudian pasrah.

Namun, Alhamdulillah, istri bisa memahami. Ia sadar bahwa suaminya sudah melaksanakan kewajibannya sebagai suami, yakni mencari nafkah yang halal untuk anak dan istri. Tapi, Tuhan memang belum berkenan memberi rezeki.

Akhirnya, jalan satu-satunya adalah menggadaikan cincin emas miliknya hasil pemberian orang tua.

Aku sebenarnya menolak atas pilihan opsi terakhir itu. Karena pemberian orang tua adalah hal yang sakral dan harus dijaga dengan baik. Apa pun bentuk pemberian itu. Apalagi permata yang sangat disukai kaum hawa.

"Apakah kita tidak bisa berhari raya tanpa baju lebaran?" tanyaku untuk kemudian menolak idenya pergi ke pegadaian.

"Tentu bisa, mas," jawabnya. "Tapi bagaimana dengan anak kita? Ia harus pakai baju baru, kan? Aku tidak ingin ia menangis sendirian karena malu pada teman-temannya yang memakai baju baru pada saat lebaran," katanya menjelaskan.

Alasan itulah yang membuat aku terdiam, tertunduk, dan setuju. Benar, seorang ibu lebih peka dengan kondisi anaknya. Ia mendahulukan kebutuhan anaknya di atas kebutuhan yang lainnya, bahkan untuk kepentingan pribadinya.

Dengan cukup berat kami melangkah ke pegadaian. Dalam perjalanan, di lidah terasa pahit sekaligus manis. Sementara, di dada bergemuruh antara sedih dan bahagia. Sedih karena akan melepaskan harta kesayangan dan bahagia karena sebentar lagi akan membeli baju lebaran khusus anak semata wayang.

Terima kasih istriku, telah memberikan dukungan, solusi dan spirit di masa yang sulit.

Mudah-mudahan di masa pandemi ini kita masih tetap bahagia dan bisa membahagiakan keluarga, termasuk juga berbagi kebahagiaan dengan sesama.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar